Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget

 
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
photo by : pocket tour


Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget- Sabtu sore itu kami mengendarai motor menuju gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Di gampong itu akan diadakan permainan tradisional yang idenya dicetuskan oleh Ariya yang tergabung dalam anggota Aceh Backpacker. Sebelumnya setelah memunculkan ide tersebut, sembari ngopi bareng kita merencanakan persiapan-persiapan agar nantinya acara ini terlaksana dengan baik dan mendapat respon yang positif. Untuk tahap awal kami memilih Gampong Nusa sebagai tuan rumah dari permainan tradisional ini.
Permainan tradisional dulunya sangat digemari anak-anak pada tahun 90-an, sekarang sudah kalah pamornya bila dibandingkan oleh gadget yang selalu menjadi barang wajib yang harus dibawa oleh anak kemanapun dia pergi. Saat ini apabila anak menangis, orang tua dominannya mencekoki gadget agar si anak tersebut tenang karena perhatiannya sudah teralihkan.
Entah harus merasa takjub atau miris terhadap hal tersebut. Disatu sisi perkembangan teknologi memang sangat membantu kehidupan sehari-hari, tak bisa disangkal memang saat ini teknologi menjadi asisten terbaik bagi kita, namun disisi lain teknologi telah merenggut rasa sosial yang kita miliki. Bagaimana tidak? Teknologi dapat menjadikan sesuatu yang jauh menjadi dekat, tapi disaat bersamaan teknologi juga dapat menyebabkan sesuatu yang dekat menjadi tak terlihat.

Didasari oleh hal itu, Aceh Backpacker yang dibantu oleh komunitas Al-Hayah dan masyarakat Gampong Nusa ingin mempopulerkan kembali permainan tradisional tersebut, karena semua orang berhak merasakan bahagia, semua orang berhak merasakan gimana gregetan-nya saat memecahkan suatu masalah bersama tim, dan semua orang berhak merasakan indahnya bersosialisasi.
Permainan yang berlangsung sore itu adalah lomba lari “sipatu broek” atau lomba lari pakai batok kelapa, main galah, dan patok lele. Setiap daerah pastinya mempunyai nama yang berbeda walaupun permainannya sama.

Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
permainan sipatu broek (photo by : pocket tour)
Tampak sekali keceriaan menyelimuti sore itu, anak-anak yang bersorak menyemangati temannya, ibu-ibu yang heboh ketika menjelaskan tata cara permainan, dan anak-anak muda yang ternyata juga ingin ikut menjadi peserta lomba, semua itu terangkum dalam satu frame kebahagiaan.
Sudah jarang saya melihat pemandangan yang terpampang jelas di mata saat itu. Ini kenyataan! Bukan bagian dari sin dokumenter yang biasa saya lihat di televisi ketika siang hari.
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
keceriaan saat bermain (photo by: pocket tour)

Pikiran saya kembali melayang jauh ke belasan tahun silam saat orang tua memaksa untuk tidur siang, tapi saya diam-diam keluar dari rumah karena memilih bermain bersama teman di teriknya matahari. Lalu ketika ketahuan, saya dihukum untuk tidak boleh keluar rumah selama dua hari, tapi yang namanya anak kecil banyak saja ide yang muncul untuk bisa menyusup keluar rumah demi bermain.  Itu hal ter-istimewa yang pernah saya alami. Saat ini, bahkan di komplek perumahan saya sudah tak pernah lagi terlihat anak-anak berkelompok yang sedang bermain, mereka sudah nyaman dengan gadgetnya masing-masing, dan bisa dipastikan rasa ingin menikmati kebersaman pun sudah hilang dari diri mereka.

Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
sejenak kembali ke masa kanak-kanak

Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
semangat sekali mainnya


Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
permainan patok lele (photo by: pocket tour)

Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
bermain galah atau sambar elang (photo by: pocket tour)


***
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
senja di Gampong Nusa
Hari sudah mulai gelap, anak-anak yang lelah bermain sudah kembali pulang ke rumah untuk bersiap-siap melaksanakan shalat magrib di meunasah gampong (red-surau kampung). Setelah shalat magrib biasanya mereka mengaji bersama. Dan biasanya pemuda gampong akan mulai latihan rapa’i geleng (tarian tradisional Aceh) setelah shalat isya. 
Tapi malam itu rapa’i sepertinya ditiadakan karena mereka sedang membantu menyiapkan makan malam bersama. Malam itu kami memang sudah merencanakan makan malam di Gampong Nusa, kami sepakat untuk meuripee (patungan) dalam membeli bahan-bahan makanan yang akan disiapkan. Tampak sekali rasa kekeluargaan disini ketika para pemuda saling membantu dalam menyiapkan lauk dan yang pemudinya menyiapkan lalapan untuk makan malam.
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
masaknya pun masih tradisional dengan menggunakan tungku 
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
mempersiapkan bumbu lalapan yang lezat
Permainan Tradisional, Jangan Hilang Terganti Gadget
waktunya makaaaan. perhatikan penampakan yang di foto itu, mereka takut kehabisan makanan
Malam itu suasana pecah oleh canda tawa, malam itu tak ada lagi stigma yang melekat antara “anak kota” dan “anak kampung”, malam itu kami seperti keluarga yang sudah lama saling mengenal. Malam itu aku berharap waktu terhenti, agar tidak segera pagi.

Banda Aceh, 22 April 2016

Pocket tour dapat membantu anda untuk dapat merasakan hal seperti ini lagi

Pocket Tour and Travel
Mobile/Wa : 082362235158 
Email: pockettourtravel@gmail.com
Instagram:@tourpocket

1 komentar: